عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْوِيهِ عَنْ رَبِّهِ، قَالَ: «إِذَا تَقَرَّبَ العَبْدُ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِذَا تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا، وَإِذَا أَتَانِي مَشْيًا أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً»
(96) Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; yang Beliau riwayatkan dari Rabbnya Azza wa Jalla, Dia berfirman, “Jika seorang hamba mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia mendekat kepada-Ku sambil berjalan, maka Aku akan mendekat kepadanya sambil berlari.” (HR. Bukhari)
Fawaid:  
1. Hadits di atas disebut hadits qudsi.
2. Barang siapa yang mengerjakan ketaatan meskipun sedikit, maka Allah akan mendatanginya dengan membawakan berbagai kemurahan-Nya. Semakin bertambah ketaatannya, maka semakin bertambah pahalanya.
3. Besarnya kemurahan Allah Azza wa Jalla; Dia memberikan pahala yang besar terhadap amal yang sedikit.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ "
(97) Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu pada keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Fawaid:
1. Orang yang tidak memanfaatkan kesehatan dan waktu luang dengan sebaik-baiknya, maka sama saja telah tertipu.
2. Seorang hamba ibarat seorang pedagang, dimana kesehatan dan waktu luang merupakan modalnya. Barang siapa yang mengelola modalnya dengan sebaik-baiknya, maka ia akan memperoleh keuntungan, dan barang siapa yang menyia-nyiakannya, maka ia akan rugi dan menyesal, serta menjadi orang yang tertipu.
3. Sepatutnya memanfaatkan kesehatan dan waktu luang untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, melakukan kebaikan sebelum lewat waktunya, karena setelah berlalu waktu luang, maka akan diiringi dengan waktu sibuk, sebagaimana setelah sehat diiringi sakit.
4. Islam mendorong pemeluknya untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin, karena itulah kehidupan. Demikian pula Islam mendorong untuk memanfaatkan kesehatan, karena yang demikian dapat membantu menyempurnakan agamanya.
5. Dunia adalah ladang untuk memperoleh akhirat, maka sepatutnya digarap dengan ketakwaan, serta menggunakan nikmat yang ada untuk ketaatan kepada Allah Ta’ala.
6. Syukur nikmat di antaranya adalah dengan menggunakan nikmat yang ada untuk ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ قَالَ: أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا
(98) Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qiyamullail sehingga terpecah-pecah kedua telapak kakinya, lalu Aisyah berkata, “Mengapa engkau bersikap demikian wahai Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu maupun yang setelahnya?” Beliau bersabda, “Tidak patutkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim. Ini adalah lafaz Bukhari, dan sama seperti ini dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari riwayat Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu).
Fawaid:
1. Kesungguhan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.
2. Bersungguh-sungguh dalam beribadah sampai memadharatkan badan tidak mengapa selama tidak membuatnya bosan.
3. Syukur bisa dengan amal di samping dengan lisan dan hati.
4. Nikmat yang diberikan hendaknya menjadikan seseorang bertambah sikap syukurnya.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، «إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ، أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ»
(99) Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika telah memasuki sepuluh terakhir (bulan Ramadhan) menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, sungguh-sungguh, dan mengencangkan ikat sarungnya.” (HR. Bukhari dan Muslim. Mengencangkan ikat sarungnya merupakan ungkapan terhadap sikap menjauhi wanita. Ada pula yang mengatakan, bahwa maksudnya sunggu-sungguh dan fokus beribadah kepada Allah Azza wa Jalla).
Fawaid:
1. Sungguh-sungguh dalam beribadah terutama pada waktu-waktu yang mulia.
2. Keutamaan malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan, karena di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadr.
3. Cara mengisi sepuluh terakhir bulan Ramadhan adalah dengan sungguh-sungguh beribadah, menjauhi wanita dengan beri’tikaf, menghidupkan malam harinya dengan banyak beribadah, mengingatkan pula keluarga untuk memanfaatkan malam-malam itu dengan beribadah.
4. Ketika Ramadhan hampir selesai, hendaknya ibadah semakin ditingkatkan.
5. Perintah mengingatkan keluarga terhadap ajaran Islam.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ *
(100) Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya ada kebaikan. Bersegeralah untuk mengerjakan yang memberikan manfaat buatmu dan mintalah pertolongan kepada Allah. Janganlah bersikap lemah, jika kamu tertimpa sesuatu maka jangan katakan, “Kalau seandainya aku kerjakan ini dan itu, tentu akan jadi begini dan begitu,” tetapi katakalah, “Allah telah takdirkan, dan apa yang dikehendaki-Nya Dialakukan,” karena (kata) “Seandainya,” membuka pintu amal (godaan)setan.” (HR. Muslim)
Fawaid:
1. Seorang mukmin yang kuat adalah seorang yang mampu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan semangat, bersabar dalam bergaul dengan manusia serta mendakwahi mereka, melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, demikian pula bersabar menghadapi gangguan mereka. Menurut Syaikh Salim Al Hilali, bahwa kuat di sini mencakup kuat agamanya, kuat fisiknya, kuat jiwanya, dan kuat akalnya yang dapat membantunya memikul beban agama, mendawahkannya, dan membelanya, sedangkan yang lemah adalah kebalikan dari itu.
2. Perintah mengerjakan sebab dan meminta pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla.
3. Tunduk-pasrah terhadap perintah Allah, dan ridha kepada takdir-Nya.
4. Perbedaan tingkatan keimanan kaum mukmin, meskipun mereka sama pada asal(dasar) imannya.
5. Iman mencakup ucapan dan amalan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.
6. Seorang mukmin sepatutnya berusaha berjihad melawan hawa nafsunya agar mencapai derajat mukmin yang kuat lagi sempurna.
7. Anjuran memadukan antara kuat iman dan kuat fisik.
8. Obat jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, yaitu dengan pasrah dan ridha kepada takdir Allah Azza wa Jalla, tidak menengok masa lalu, dan mengucapkan, “Qadarullah wa maa syaa’a fa’ala.” Sebagian ulama ada yang membaca “Qaddarallahu wa maa syaa’a fa’al,” namun yang pertama lebih kuat.
9. Beriman kepada takdir.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُولَ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: «حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ، وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ»
(101) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Neraka dipagari oleh syahwat (hal yang disukai manusia), dan surga dipagari oleh hal-hal yang tidak disukai.” (HR. Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat Muslim dengan lafaz “Huffat” sebagai ganti “hujibat,” keduanya artinya sama, yakni antara seseorang dengan neraka ada pagar itu. Jika ia mendekati pagar itu, maka ia akan memasukinya).
Fawaid:
1. Surga tidak diperoleh kecuali dengan bersabar terhadap hal-hal yang tidak disukai, dan untuk selamat dari neraka seseorang harus mengendalikan hawa nafsunya.
2. Surga dan neraka sudah ada sekarang.
3. Terkadang seseorang tidak suka kepada sesuatu, padahal di dalamnya terdapat kebaikan yang besar.
4. Perbuatan maksiat biasanya disukai oleh jiwa, sedangkan perbuatan taat biasanya tidak disukai jiwa.

Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad wa alaa aalihi wa shahbihi wa sallam
Marwan bin Musa
Maraji': Tathriz Riyadh Ash Shalihin (Syaikh Faishal bin Abdul Aziz An Najdiy)Syarh Riyadh Ash Shalihin (Muhammad bin Shalih Al Utsaimin), Bahjatun Nazhirin (Salim bin ’Ied Al Hilaliy), Al Maktabatusy Syamilahversi 3.45, dll.

0 comments:

Post a Comment

 
Pusat Kajian Hadits © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top