عَن أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي اليَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً»
(13) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari)
Fawaid:
1. Dorongan untuk banyak beristighfar dan bertaubat.
2. Ibnu Baththal berkata, “Para nabi adalah manusia yang paling giat beribadah karena pengetahuan yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka. Mereka senantiasa besyukur kepada-Nya namun merasakan kekurangan (sehingga banyak beristigfar dan bertaubat).” Inilah kesempurnaan.
عَنِ الْأَغَرِّ بْنِ يَسَارٍ الْمُزَنِيِّ - رَضِيَ اللهُ عَنْهُ - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللهِ، فَإِنِّي أَتُوبُ، فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ، مَرَّةٍ»
(14) Dari Aghar bin Yasar Al Muzanniy radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai manusia! Bertaubatlah kalian kepada Allah. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim)
Fawaid:
1. Wajibnya beristighfar dan bertaubat.
2. Perintah memperbanyak istighfar dan taubat, karena seorang hamba tidak lepas dari dosa dan kekurangan.
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ، سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِي أَرْضِ فَلاَةٍ » . مُتَّفَقٌ عليه.
وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلمٍ: لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ، مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً، فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا، قَائِمَةً عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ» .
(15) Dari Anas radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada salah seorang di antara kalian yang jatuh dari untanya, dan ia telah tersesat di padang pasir yang luas (kemudian menemukan untanya kembali).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam sebuah riwayat Muslim disebutkan, “Sesungguhnya Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya saat ia bertaubat kepada-Nya daripada salah seorang di antara kalian yang berada di atas untanya di padang pasir yang luas kemudian untanya hilang, padahal di atasnya ada makanannya dan minumannya, sehingga ia pun putus asa mencarinya, lalu ia mendatangi sebuah pohon dan berbaring di bawah naungannya karena sudah putus asa terhadap untanya. Ketika keadaannya demikian, ternyata untanya telah berdiri di dekatnya, ia pun segera memegang tali kendalinya kemudian berkata karena saking gembiranya, “Ya Allah, Engkau hamba-Ku dan aku tuhanmu.” Ia salah ucap karena begitu gembiranya.”
Fawaid:
1.    Kecintaan Allah kepada taubat hamba-Nya, dan bahwa Dia bergembira dengan kegembiraan yang sesuai dengan keagungan-Nya.
2.    Ucapan yang dilontarkan seseorang ketika riang tanpa terkendali tidaklah dihukumi apa-apa.
3.    Membuat permisalan yang dapat dirasakan agar bisa dicerna oleh akal pikiran.
4.    Keutamaan pasrah kepada Allah Ta’ala.
عَنْ أَبِي مُوْسَى عَبْدِ اللَّهِ بنِ قَيْسٍ الأَشْعَرِيِّ، رَضِيَ الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا»
(16) Dari Abu Musa Abdullah bin Qais Al Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membentangkan Tangan-Nya di malam hari agar orang yang melakukan kesalahan di siang hari bertaubat. Dia juga membentangkan Tangan-Nya di siang hari agar orang yang melakukan kesalahan di malam hari bertaubat. Yang demikian terus menerus sampai matahari terbit dari barat.” (HR. Muslim)
Fawaid:
1. Perintah untuk bertaubat kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala agar Dia menerima taubat mereka.
2. Menetapkan sifat “Tangan” bagi Allah yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Oleh karena itu, wajib mengimaninya dan tidak menanyakan kaifiyatnya.
3. Syarat diterimanya taubat adalah selama matahari belum terbit dari barat.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا، تَابَ اللهُ عَلَيْهِ»
(17) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim)
Fawaid:
Taubat diterima selama pintunya masih terbuka, yaitu ketika matahari belum terbit dari barat. Hal ini seperti firman Allah Ta’ala di surat Al An’aam: 158.
عَنْ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ العَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ»
(18) Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah akan menerima taubat seorang hamba selama ruhnya belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi, dan dihasankan oleh Al Abani)
Fawaid:
Pintu taubat masih tetap terbuka selama ruh belum sampai di tenggorokan dan selama matahari belum terbit  dari barat. Lihat QS. An Nisaa’: 18.
Marwan bin Musa
Maraji': Syarh Riyadh Ash Shalihin (Syaikh Faishal bin Abdul Aziz An Najdiy), Syarh Riyadh Ash Shalihin (Muhammad bin Shalih Al Utsaimin),  Bahjatun Nazhirin (Salim bin ’Ied Al Hilaliy), Al Maktabatusy Syamilah versi 3.45, dll.

0 comments:

Post a Comment

 
Pusat Kajian Hadits © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top